Gombalisasi, Sesatkan Pikiran

Gombalisasi, Sesatkan Pikiran

Oleh : Andarino SGT
Mahasiswa Semester V IISIP Jakarta

IMG 1498

detaktangsel.com- Pemerintah makin intensif menggulirkan kebijakan terkait rencana pembangunan. Namun, hasilnya belum menyentuh secara mendasar kepentingan rakyat. Terkadang cenderung menyiratkan gombalisasi program yang justru sesatkan pikiran.

Pembangunan bukanlah sekadar suatu tujuan tindakan nasional, baik di bidang ekonomi, politik,budaya, hukum maupun sosial. Namun, subtansi atau hakikat tujuan pembangunan merupakan tumpuan semua harapan atas perubahan nasib.
Satu pemikiran kritis dikemukakan sebagian masyarakat adalah kewajaran karena tuntutan suatu perubahan nasib menjadi harga mati. Maka, membedakan antara pikiran dan watak tersirat dalam harapan sekaligus semua pihak. Apalagi masyarakat merupakan kolaborasi secara historis dalam perjuangan untuk eksistensi antargenerasi.
Adapum tingkat kesadaran tidak semata secara pasif mencerminkan kondisi objektif. Ini terkadang bereaksi secara aktif terhadak perkembangan sosial. Sangat tidak mengherankan acapkali reaksi sosial atau politik yang muncul pun cenderung menggambarkan karakter keras dan penuh nafsu.
Semangat exploitation de L’homme par L’homme, penindasan manusia atas manusia pun makin membudaya sekaligus membumi dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya semangat gotong royong, toleransi, dan saling peduli pun makin pudar.  
Mesin dan alat-alat produksi terus menggilas kehidupan masyarakat. Sangat
Peter L Berger, sosiolog dari Universitas Rutgers, New Jersey dalam bubu Piramida Pengorbanan Manusia, menggambarkan masyarakat menyadari keadaan ini sangat membayakan kehidupan,  maka tidak mengherankan bila usaha-usaha untuk memperbaiki keadaan giat dilakukan orang agar memungkinkan manusia kembali merasa ‘betah’ baik di lingkungan masyarakat.
Jelalah perlawanan dan rasa tidak puas yang ditujukan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat pun menggelinding bak bola salju. Sehingga kondisi ini mendorong masyarakat mencari solusi agar ‘betah’ menjalani kehidupan yang sarat dengan pesan bernada ‘gombalisasi’ dari pimpinan formal maupun informal dan akhirnya bisa sesatkan pikiran.
Contoh sangat memprihatinkan adalah sejumlah anggota Menteri berlomba-lomba beriklan diri di sejumlah stasiun televisi swasta nasional program kerja.  Pesan yang disampaikan cenderung bersifat pencitraan diri. Padahal rakyat tidak butuh pesan-pesan yang ditayangkan melalui iklan. Sebaliknya rakyat butuh hal-hal yang kongkret.

Go to top