Warga Cikande Waspadai Demam Berdarah

Kepala Desa Cikande Permai Eko Mudiharto Kepala Desa Cikande Permai Eko Mudiharto rizki

detakbanten.com SERANG - Kepala Desa Cikande Permai Eko Mudiharto mengimbau warganya agar selalu waspada terhadap timbulnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

"Saya mengimbau kepada seluruh warga Cikande Permai agar selalu waspada terhadap timbulnya penyakit DBD," katanya.

Dalam satu tahun terakhir ini, telah beberapa orang meninggal dunia akibat DBD. Untuk itu, pihaknya selalu melakukan penyuluhan kepada warga melalui kader dan puskesmas setempat. "Berantas DBD, karena penyakit itu dapat merengut nyawa siapa saja tanpa pandang bulu," tegasnya.

Hal itu ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar selalu memperhatikan lingkungan rumahnya dari jentik nyamuk Aedes Aegypti yang bersembunyi di genangan air bersih."Walau masih sebagian masyarakat tak mengindahkannya, namun kami tak bosan-bosan untuk melalukan penyuluhan tentang DBD ini melalui para kader," paparnya.

Selain fogging, Eko juga mengatakan jika pihaknya kerap melakukan kerja bakti massal pada setiap minggunya untuk membersihkan lingkungan rumah serta selokan.

Perwakilan Puskesmas Cikande, Kabupaten Serang Rahmat mengatakan, agar masyarakat untuk melakukan program Menguras, Menutup dan Mengubur (3M) ditambah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). "Mari bersama-sama kita lakukan 3M dan PSN untuk bebas dari DBD," tutur Rahmat.

Dia juga menjelaskan, sesuai program pemerintah pusat yakni galakkan 1 (satu) rumah satu juru Pemantau jentik (Jumantik). "Yang punya rumah jaga masing-masing rumahnya dari nyamuk DBD. Control secara teliti tempat penampungan air bersih dan jangan lupa taburkan abate untuk meminimalisir perkembangan nyamuk ini," jelasnya.

Kader RW 04 Cikande Permai 2, Erni SM, salah satu kader yang tak kenal lelah dalam melakukan penyuluhan dan sosialisasi terkait bahayanya DBD. "Banyak warga yang beralasan sudah faham dengan DBD dan penanganannya sehingga tidak mau untuk menerima penyuluhan," tutur Erni.

Dia mengaku, banyak penolakan dari warga, namun Erni terus berupaya agar penyuluhan dan sosialisasi tetap tersampaikan. "Contohnya saja saat fogging ini, 80 persen warga tidak mau rumahnya di fogging dengan berbagai alasan. Walau begitu, saya tetap berupaya memberikan pemahaman tentang pentingnya fogging sebagai salah satu upaya menekan perkembangan nyamuk DBD," pungkas Erni.

Go to top