Plt Dirut RSUD Tangsel Bantah Ada Mafia Obat

Plt Dirut RSUD Tangsel Bantah Ada Mafia Obat

detaktangsel.com- PAMULANG, Pelayanan kesehatan masyarakat RSUD Kota Tangsel buruk. Bahkan, ditenggarai terjadi praktik mafia obat di rumah sakit plat merah tersebut.

Kecurigaan masyarakat berawal dari isu yang berkembang. Di mana setiap pasien hanya mendapat resep dan wajib menebus obat di apotik swasta rujukan RSUD Kota Tangsel.

Adalah King Hendro Arifin (30). Warga Jalan Raya Ciater, RT 02/03, Kelurahan Rawa Mekar, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel, Senin (18/8), ini menduga ada praktik kotor tersebut.

Pekerja swasta ini mengalami robek di bagian kaki cukup parah akibat kecelakaan. Ia menjalani pelayanan medis di RSUD Kota Tangsel karena gratis. Apalagi pemerintah setempat mendengungkan sebagai daerah yang bermotto cerdas, modern, dan religius.

Arifin pun kecewa berat setelah menjalani pengobatan.

Menurutnya, pelayanan di RSUD cukup memrihatinkan. Bagaimana tidak, sekelas obat antitetanus tidak memiliki stok. Alhasil, ia terpaksa membeli ke apotik di luar RSUD.

"Semula saya berobat di Puskesmas Rawa Buntu. Luka saya dijahit. Selanjutnya, diberi obat dua macam. Dokter Puskesmas menyarankan saya mencari rumah sakit yang menjual obat antitetanus. Karena obat suntik tersebut tidak tersedia di Puskesmas Rawa Buntu," tuturnya.

Sejak mendapat rujukan dari Puskesmas Rawa Buntu, Arifin menjelaskan, pihaknya mendatangi RSUD Tangsel dan menyerahkan rujukan ke bagian UGD. Ia menemui dokter yang langsung menyuruhnya agar mengambil resep ke apotik RSUD. Setelah mengantre sekitar 20 menit di apotik, ia dipanggil apoteker.

"Saya kaget hanya diberi dua alat suntik. Saya tanya obatnya mana? Apoteker bilang tidak ada. Obat harus beli di apotik luar. Saya dikasih resep untuk menebus obat tersebut," kata Arifin.

Arifin menerima pelayanan kurang baik. Lalu, terbersit dugaan praktik-praktik yang menyebutkan obat tidak ada di RSUD tersebut, hanya permainan. Apalagi sempat beredar kabar ada mafia obat di RSUD Tangsel.

"Saya pernah baca di koran, RSUD Tangsel diduga sengaja tidak menyediakan obat tertentu agar pasien beli di luar. Dengan begitu, ada keuntungan yang didapat para oknum di RSUD. Jangan-jangan saya jadi korban modus seperti yang diberitakan di media tersebut," paparnya.

Akhirnya Arifin memilih berobat ke rumah sakit swasta dengan harga obat suntik antitetanus Rp600 ribu.

"Saya masih beruntung bisa berobat ke rumah sakit swasta. Saya ke RSUD hanya sekadar mencoba fasilitas gratis yang katanya program unggulan Pemkot Tangsel. Ternyata jauh dari yang diharapkan. Saya tidak bayangkan kalau yang berobat itu seorang nenek renta yang miskin," ujarnya.

Ia sangat berharap mendapatkan pelayanan medis yang benar-benar gratis. Ternyata, setelah datang ke RSUD, tidak ada istilah gratis itu.

Menanggapi isu tersebut, Plt Dirut RSUD Kota Tangsel Tri Utami membantah bila ada mafia obat di RSUD Kota Tangsel. Kasus yang menimpa King Hendro Arifin hanya salah paham.

"Sebenarnya obatnya ada dan petugas akan memberikannya. Namun, memang harus menebusnya terlebih dahulu sesuai resep yang diberikan," pungkasnya seraya menegaskan, pihaknya telah melakukan pemanggilan kepada petugas RSUD Kota Tangsel atas kelalaiannya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Go to top