Konvensi Rakyat Diprediksi Saingi Capres Demokrat

Jakarta- KH.Sholahuddin Wahid ( Gus Sholeh) Jakarta- KH.Sholahuddin Wahid ( Gus Sholeh)

JAKARTA-Konvensi Rakyat akan segera digelar guna mencari tokoh-tokoh capres yang tak diusung partai politk. "Bisa jadi lebih meriah ketimbang konvensi capres yang lainnya, kita ingin menampilkan tokoh-tokoh yang layak tetapi belum ke publik," kata Ketua Komite Konvensi Rakyat, KH Sholahuddin Wahid dalam diskusi "Kriteria Pemimpin Nasional" di Jakarta, Senin,(18/11).

Menurut adik kandung Gus Dur ini, salah satu mekanisme konvensi rakyat ini adalah melalui survey. Para tokoh capres yang ikut konvensi ini akan dilihat, bagaimana elektabilitasnya dan tingkat keterpilihan di mata publik. "Kita coba menggali konsep untuk mengatasi berbagaia masalah bangsa," tambahnya.

Diakui tokoh NU ini, sebenarnya saat inipun banyak tokoh-tokoh yang bersih dan layak menjadi pemimpin bangsa. Namun tak ada "saluran" yang bisa menjadikan para tokoh ini untuk digaet partai politik. 'Karena itu, dari hasil konvensi ini, tokoh yang mendapatkan elektabilitas 10% akan ditawarkan kepada parpol untuk dipertimbangkan," paparnya.

Oleh sebab itu, sambung Gus Sholah, kalau tokoh yang disurvey tersebut hanya mampu meraih 5% atau dibawah angka itu, tentu saja sulit untuk ditawarkan kepada parpol. "Kalau dibawah 5%, tentu ya harus sulit untuk dijual," tukasnya.

Saat ditanya bagaimana kalau parpol menolaknya, Gus Sholah menegaskan hal itu tak menjadi persoalan. Yang penting sebagai anak bangsa, kita sudah menawarkan kepada parpol, masalahnya kemudian parpol menolaknya, itu lain soal," ucapnya.

Didesak kemungkinan peserta konvensi capres Partai Demokrat ikut konvensi rakyat, Gus Sholah menjelaskan kecil kemungkinan hal itu akan terjadi. "Kecil peluangnya, karena mereka sudah terikat konvensi Partai Demokrat. Namun hal itu bisa saja terjadi kepada kader Demokrat yang tak ditawarkan ikut konvensi," tambahnya.

Menyinggung soal Forum Rektor  Indonesia (FRI) yang juga menggelar kegiatan serupa, yakni konvensi capres, mantan kandidat Ketua umum PBNU ini mengakui awalnya akan melakukan sinergi langsung dengan FRI, namun FRI sudah jauh melangkah sejak awal 2013. "Yang jelas memang terlalu penting, untuk hanya menyerahkan kepada parpol dan politisi saja, sejumlah warga negara dari berbagai latar belakang mencoba untuk menyelenggarakan konvensi rakyat di luar konvensi Forum Rektor Indonesia," pungkasnya. **cea

Go to top