Penumpang Bogor-Lebak Bulus Was-was

Penumpang Bogor-Lebak Bulus Was-was

detaktangsel.com - BOGOR, 2800 penumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dari Bogor mengaku was-was dengan penutupan Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk pembangunan proyek mass rapid transit (MRT). Karena dengan kondisi itu akan banyak penumpang yang terlantar.

Kekhwatiran tersebut sebagian dikeluhkan para pekerja yang berdomisi di Bogor dan mempunyai aktivitas di sekitar Lebak Bulus. Untuk mencapai lokasi kerja, mereka naik bus AKAP trayek Bogor–Lebak Bulus kemudian berjalan, naik angkutan kota atau ojek sepeda motor. Penutupan per-Selasa (7/1) berdampak kepada bus AKAP tidak boleh lagi menurunkan penumpang di Lebak Bulus.

Syarifudin (30) yang ditemui di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, mengatakan, setiap hari, memakai bus AKAP trayek Bogor – Lebak Bulus bertarif Rp 13.000 per penumpang. Dari Lebak Bulus ke kantor, selanjutnya Syarif berjalan.

“Saya khawatir kalau harus turun jauh dari Lebak Bulus sehingga terpaksa naik angkutan lain yang menambah biaya dan waktu,” ungkap Syarif yang berkerja di perusahaan jasa pengiriman (fedex) di daerah Pondok Pinang, Kebayoran Lama.

Hal senada diutarakan oleh penumpang lain bernama Widyasari (32). Baginya,  bus tujuan Lebak Bulus menjadi sarana transportasi yang efektif dan efisien. Dari rumah, Widya berjalan kaki ke Baranangsiang kemudian naik bus ke Lebak Bulus untuk bekerja. “Sangat efektif dan efisien,” katanya.

Untuk itu, Syarifudin dan Widyasari khawatir jika mereka harus turun jauh dari Lebak Bulus, berarti harus menambah ongkos dan waktu untuk mencapai tempat kerja. Mereka mengharapkan, masih bisa turun di halte terdekat dari Lebak Bulus.

Praktisi transportasi Rudy Thehamihardja mengingatkan, bus AKAP melayani trayek terminal ke terminal. Terminal dekat dengan Lebak Bulus ialah Pondok Cabe atau Ciputat di Tangerang Selatan atau Kampung Rambutan di Jakarta Timur. Jika bus tujuan Lebak Bulus harus menurunkan penumpang di Kampung Rambutan, itu berarti memaksa penumpang berganti moda sehingga ada tambahan biaya dan waktu.

“Kondisi itu dinilai menyusahkan dan merugikan penumpang. Karena pelayanan transportasi yang sudah berjalan efektif dan efisien, malah nantinya dibuat menyulitkan,” imbuh Rudy.

Rudy menyarankan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan yang mengeluarkan kebijakan trayek AKAP. Koordinasi penting agar bus-bus AKAP tujuan Lebak Bulus yang dipakai oleh pelaju dari Bogor atau Sukabumi diperkenankan menaikkan dan menurunkan penumpang di halte terdekat. Tujuannya, agar kenyamanan penumpang tidak berkurang.

Salah satu operator bus Argamas, Dian Saputra (30) mengimbau bahwa fungsi terminal Lebak Bulus difungsikan sedia kala. Menurutnya apabila Pemerintah Daerah DKI Jakarta ingin memaksakan untuk membangun maka harus menyediakan tempat yang respresentatif untuk armadanya.

“Harusnya Pemprov DKI mencari lokasi dengan luas yang sama untuk armada AKAP di sekitar Lebak Bulus untuk menggantikan terminal lama bila akan membangun. Bukan berarti mentiadakan terminal lalu menyebarkan ke terminal AKAP lain,” kata dia.

Menurut Dian, setiap harinya sekitar 2800 penumpang terangkut dengan menggunakan 24 armada Argamas dari jam oprasional pukul 05:00-21:00. Dan kata dia, sesuai ketentuan peraturan trayek bahwasannya tujuan destinasi bus AKAP diharuskan dari terminal ke terminal. “Jadi bus AKAP harus keluar dari terminal dan masuk ke terminal, bukan berhenti diperlintasan,” tandasnya. (rul)

Go to top