Anomali cuaca sulit diprediksi,Waspada Longsor

ilustrasi ilustrasi

BOGOR- Hujan deras terus melanda wilayah Bogor dan sekitarnya, padahal sesuai prediksi dari badan metereologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa memasuki bulan November harusnya kondisi cuaca Kota Bogor sudah kembali normal.

Karena sesuai prediksi musim penghujan tahun 2013/2014 umumnya terjadi mulai September hingga Oktober 2013 dan sebagian kecilnya lainnya mulai pada bulan November dan Desember 2013.

Namun beberapa hari kemarin anomali (perubahan) cuaca masih melanda Kota Bogor, cuaca panas masih terjadi pada pukul 10:00-15:00 wib, namun perubahan cuaca sangat drastis di kisaran Pukul 16:00-21:00 wib, terlihat mendung dan hujan  mengguyur Kota hujan ini.

Kepala Klimatologi Stasiun Dramaga, Nuryadi mengatakan, bulan ini diprakirakan cuaca Kota Bogor kembali normal, setelah mengalami kondisi cuaca di atas Normal pada bulan Oktober  karena nilai curah hujan yang lebih dari 115 derajat.

“Untuk dua bulan kedepan, cuaca kembali normal dan sedikit berada di bawah normal,” terangnya.
    
Dijelaskannya, curah hujan komulatif selama periode Oktober 2013 sampai Maret 2014 diiprakirakan curah hujannya mencapai 1900-2400 mm.
     
“Kondisi Ekuator pasifik tengah berada pada kondisi normal. Kondisi ini sudah terjadi sejak 2012, indeksnya berharga minus 0,3, hal ini membuat curah huja kembali normal,” bebernya.

Beberapa analisis juga menunjukan bahwa kondisi normal akan dominan hingga pertengahan 2014. ini memberikan indikasi, bahwa awal musim hujan 2013/2014 di wilayah Indonesia berada di kisaran normalnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Darmaga, Hendri Antoro menjelaskan, anomali cuaca yang tiba-tiba panas dan hujan ini,  disebabkan posisi matahari tengah berada tepat di titik garis equator atau berada di atas wilayah Bogor dan sekitarnya.

"Ditambah dengan kelembaban udara yang saat ini cukup tinggi, mencapai angka 58 hingga 90 persen. Panasnya terjadi merata hampir di seluruh Indonesia," ungkapnya.

Menurut Hendri, dengan kelembaban udara yang cukup tinggi tersebut, cuaca menjadi cerah dan pembentukan awan tidak merata. Kondisi udara juga cenderung stabil, namun juga cenderung  bergerak dan membuat panas bergeser dari satu titik ke titik lain.

"Kondisi udara yang tidak stabil menjadikan panasnya ini tidak merata Kalau udara pergerakannya labil, itu akan bergerak dan membuat panas bergeser ke lokasi lain," tutur dia.

Meski demikian, tambahnya, potensi terjadinya hujan di wilayah Bogor tetap ada walau dengan durasinya beragam.

Sebelumnya, terjadi hujan deras disertai angin kencang mengakibatkan tebing tanah setinggi 10 meter longsor di Kampung Banara Jaya RT 1/09, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu. Peristiwa ini merenggut nyawa dua warga dan melukai empat warga lainnya.
Korban tewas atas nama Ade (20), Kira (35) warga Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang.

Longsoran tanah mengakibatkan mobil Suzuki APV Pick Up dan lima motor terseret dan tertimbun di jurang. Musibah tanah longsor ini juga mengakibatkan jalan desa terputus akibat tertutup material tanah dan tiga bangunan rumah warga.

Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Budi Aksomo, menjelaskan dua warga yang kemudian tewas itu, saat kejadian tengah melintas di jalan penghubung Desa Puraseda dengan Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan.

"Seluruh korban tewas sudah dimakamkan keluarganya masing-masing," ujarnya.

Lokasi tanah longsor merupakan kawasan perkebunan. Tanah longsor menimpa jalan dan mendorong lima sepeda motor dan dua angkutan pedesaan, termasuk empat warga ke jurang.

"Lokasi kejadian merupakan daerah rawan tanah longsor. Tanah amat labil dan kerap terjadi bencana serupa saat musim hujan. Sebanyak 28 jiwa yang rumahnya dekat lokasi longsor diungsikan ke tempat yang lebih aman," tambahnya.

Untuk mencari korban yang tertimpa material, BPBD Kabupaten Bogor mengerahkan 20 petugas dibantu anggota TNI, Polri, dan warga. (rul)

Go to top