Puluhan Orang Stres, Pengungsi Krisis Air Bersih

(by.antaranews) (by.antaranews)

detaktangsel.com - BOGOR,Imbas bencana longsor yang disebabkan pergerakan tanah di empat desa, mengakibatkan puluhan orang stres, karena takut dan kaget rumah yang ditinggali selama ini harus hancur rata dengan tanah.

“Untuk jumlahnya tidak tahu, ya ada 10an yang stres, karena kejadian ini termasuk pak lurah Cibadak,” ujar petugas kesehatan pada UPT Puskesmas Sukamakmur,  Idarbia saat di temui di Posko Bencana, kemarin.

Menurutnya, hal ini biasa terjadi ketika ada kejadian secara mendadak, namun kondisi itu tidak berlangsung lama karena cepat di tangani oleh petugas dilapangan dengan mendatangi korbannya. “Mereka stress karena rumah yang ditinggalinya hancur rata dengan tanah secara tiba-tiba, sehingga sampai tidak sempat menyelamatkan harta bendanya,” ungkap Ibar.
Tak hanya itu, untuk penyakit pasca bencana yang terdeteksi baru Ispa dan diare, tapi itupun baru beberapa orang saja yang merasakan,  mengingat memang kondisi cuaca seperti ini. “Itu hanya sebagaian, yang banyak mereka merasa kelelahan dan pegal-pegal badannya terutama para orang tua,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, para pengungsi juga mengeluhkan sarana air bersih, karena kata dia, mereka tinggal satu rumah namun bisa mencapai 10 orang, sedangkan saran air bersihnya terbatas. “Itu menjadi kendala dilapangan dan petugas juga kebingungan jika hal itu terjadi, bagaimana cara mengirimnya, karena mereka ngusi di banyak titik,” tambah dia.

Menanggapi hal tersebut Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah -BPBD- Kabupaten Bogor, Budi Aksomo mengatakan, untuk sarana air bersih tetap disediakan ke tempat yang dibutuhkan. Namun emmang secara bertahap tidak bisa sekaligus.

Sedangkan untuk bantuan yang menumpuk di posko, kata bukan tidak dibagikan, namun memang BPBD mengatur untuk pengiriman bantuan itu jadwalnya dua hari sekali, tujuannya agar bantuan yang ada juga tidak menumpuk di mereka.

Terkait hunian utnuk Hunian Sementara (huntara) sedang dikoordinasikan kepada pemerintah daerah, namun sebelum itu dibangun, akan terlebih dahulu berdialog dengan masyarakat yang terkena musibah mau ataui tidak.   
“Kita tidak akan memaksa mereka untuk tinggal disana, tergantung mereka maunya seperti apa, jika ingin rumah permanen itu butuh waktu, karena harus dilakukan pembelian lahan atau sewa,” terangnya.

Diperkirakan, kata dia untuk hunian sementara itu menghabiskan anggaran kurang lebih Rp3,7 miliar, dan kondisinya seperti apa akan dijelaskan kepada masyarakat.

Dengan banyaknya bencana yang melanda kabupaten Bogor, Bupati Bogor Rachmat Yasin menegaskan bahwa seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait agar segera bantu warga yang terkena bencana longsor. Hal tersebut ia sampaikan saat memimpin Rapat percepatan penanggulangan bencana Ruang Rapat Pendopo Bupati Bogor, Selasa (28/1).

“Saya perintahkan kepada seluruh OPD terkait untuk sesegera mungkin mempercepat penanganan bencana seperti di Kecamatan Sukamakmur dan ditempat lainnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Pemkab Bogor akan segera membangun hunian sementara (Huntara) bagi masyarakat Sukamakmur. “Pembangunan Huntara yang berlokasi di Kp. Cimuncang Desa Cibadak, berjarak ±1,5 km dari lokasi kejadian. Mengingat lokasi bencana sudah tidak layak huni dan terdapat keterbatasan apabila ikut mengungsi dirumah kerabat atau saudara,” terang mantan Ketua DPRD Kabupaten Bogor ini.
Lebih lanjut ia mengatakan, Huntara nantinya akan diisi oleh 200 kepala keluarga (KK) jangan sampai mengakibatkan masalah baru yanga pada akhirnya mereka terisolasi karena jalan yang tidak memadai. Oleh karena itu bangun akses jalan menuju huntara agar masyarakat tidak terisolasi.

Ditambahkannya, disamping pembangunan Huntara, terhadap pengungsi juga direncanakan diberikan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, sandang) dan pemenuhan rasa aman dilokasi serta mobilisasi dan bantuan pembongkaran rumah. (rul)

Go to top