DAS Ciliwung Memprihatinkan

DAS Ciliwung Memprihatinkan

detaktangsel.com - BOGOR, Banjir yang memang menjadi permasalahan di semua daerah tak terkecuali di Jakarta terus merongrong Bogor untuk berbenah diri. Padahal, tidak sepenuhnya merupakan salah Bogor, karena banyak faktor yang menyebabkannya, terutama adalah penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Ciliwung yang merupakan sungai yang melewati jalur Bogor sampai dengan Jakarta memang merupakan jalur aliran air dari Bogor dan sekitarnya. Namun, kondisinya sudah berbeda dulu dengan sekarang, dimana dipinggiran sungai sudah banyak di huni oleh bangunan-bangunan sehingga tidak ada lagi daerah resapan serta terjadi penyempitan aliran sungai dan menyebabkan luapan air.  

 Kondisi itu menyebabkan curah hujan yang tinggi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung mengakibatkan Penumpukan air di Kawasan Jakarta. Seperti yang diungkapkan oleh Koordinator Ciliwung Institute Sudirman Asun.

“Banjir Jakarta sebenarnya tidak hanya dari DAS Ciliwung saja yang berpengaruh,  tapi ada lima DAS lagi yang turut berkontribusi dengan datangnya banjir Jakarta yaitu DAS Angke–pasanggrahan, DAS Krukut-Grogol, DAS Sunter, DAS Cakung dan, DAS Buaran,” ungkapnya.

Untuk jarak sungai bertanggul idelanya memiliki jarak 30 meter dari pinggiran sungai dan digunakan sebagai lahan untuk penanaman pohon. Sedangkan perkotaan jaraknya sekitar 15-25 meter harus bebas dari bangunan. Dan untuk pedesaan jaraknya sekitar 50 meter dari pinggiran sungai.

Namun yang terjadi saat ini, setiap kali banjir datang ke Jakarta Ciliwung selalu menjadi Kambing hitam atas penyebab bencana tersebut. Dengan panjang sungai 124,1 km dari hulu sampai hilir dan total DAS Ciliwung adalah sebesar 370,8 km2. Sehingga secara keseluruhan total DAS Ciliwung sepanjang 1076,1 Km.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketua Komunitas Peduli Ciliwung Bogor  Hari Yanto. Ia menambahkan, untuk DAS memang idealnya memiliki lahan hijau dipinggiran sungai minimal 30 persen dari total keseluruhan sungai yang ada. Namun, Ciliwung hanya memiliki 12 persen saja.

Untuk di Bogor kata dia, ada lima titik yang terparah tidak ada lagi memiliki lahan hijau di pinggiran sungainya mulai dari Telaga warna, Megamendung, Sukahati, Cilebut dan Bojonggede. Sedangkan untuk Depok mencapai 20 km dan Jakarta di Jatinegara dimana adanya penumpukan sampah.

“Idealnya jarak kali atau sungai pada sebuah bangunan itu mencapai 20 meter, namun kenyataannya mulai dari Depok sampai Jakarta hanya lima meter,” tambahnya.

Tak hanya Ciliwung, Sungai Cisadane juga menjadi potensi besar untuk penyumbang air ke Jakarta, karena DAS disana juga banyak ditumbuhi oleh bangunan-bangunan sehingga penyerapan air terus berkurang.

Akibatnya, dampak dari penyempitan dan bangunan liar yang tumbuh di bantaran kali dan sungai disekitaran Megamendung, Cisarua, Depok dan Jakarta menyebabkan air bergerak liar tanpa ada penahan. Alhasil, siklus banjir yang selalu datang lima tahunan, sekarang menjadi setiap tahun sekali terjadi.  

“Harusnya dibangun sebuah komitmen bersama antara pihak DKI Jakarta dan Jabar untuk menangani masalah ini. Karena kami disini sebagai komunitas tidak bisa sepenuhnya memperbaiki kondisi yang ada, hanya mampu membersihkan sampah dan memantau lokasi yang ada ,” terang pria yang juga bekerja sebagai staf Ahli Daerah Tangkapan Air pada Forest Wach Indonesia (FWI) ini. (rul)

Go to top