Sampah Cipeucang Menguap, Warga Desak Dewam Tangsel Ambil Sikap

 Ketua Komisi IV DPRD Tangsel, Mursidi Ilyas saat memeriksa balita yang di gendong ibunya. Bayi tersebut mengalami penyakit kulit di sejumlah anggota badannya diduga akibat terkena polusi TPA Cipeucang Ketua Komisi IV DPRD Tangsel, Mursidi Ilyas saat memeriksa balita yang di gendong ibunya. Bayi tersebut mengalami penyakit kulit di sejumlah anggota badannya diduga akibat terkena polusi TPA Cipeucang

detakbanten.com SETU--Cipeucang lagi... Cipeucang lagi. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah masyarakat Tangerang Selatan (Tangsel) yang dibangun tahun 2012 itu, kembali menuai masalah.

Aroma bau menyengat serta seabreg permasalahan yang di rasakan warga sekitar Cipeucang di Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong ini, mengusik kenyamanan warga. Bahkan, lantaran polusi tak sedap itu, puluhan warga akhirnya mendatangi Kantor DPRD Tangsel, Kamis (22/9/2016).

Kedatangan warga Kavling Serpong, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong ke kantor wakil rakyat itu, tak lain untuk mendesak DPRD agar secepatnya mengambil sikap. Warga yang terdiri dari perwakilan RT serta ibu-ibu dengan menggendong balitanya itupun langsung di persilahkan duduk oleh Komisi lV di ruang rapat DPRD Tangsel.

Sempat kedatangan warga ke Kantor DPRD Tangsel membuat dewan terkejut lantaran salah satu balita yang berada dalam gendongan seorang ibu warga Kavling Serpong tersebut terlihat kulitnya mengalami luka. Diduga, balita yang diperkirakan berumur delapan bulan itu terkena dampak polusi TPA Cipeucang. Di hadapan sejumlah dewan diantaranya Ketua Komisi lV Mursidi Ilyas, Drajat Sumarsono, Nurhayati Yusuf, Abdul Rahman serta Ketua Komisi I, Taufik M Amin, wargapun langsung menyampaikan berbagai keluhannya mengenai persoalan polusi di TPA Cipeucang.

Apalagi, warga menganggap kualitas udara dan air di lingkungan mereka sudah tercemar. Akibat kondisi tersebut, hingga saat ini sudah ada tiga bayi yang terkena penyakit kulit seperti kudis di bagian tubuh balita-balita tersebut.

Dengan dampak yang sangat berbahaya itu, para warga meminta agar Komisi IV yang dalam hal ini menangani persoalan sampah. Mampu mengambil langkah cepat untuk mendesak Pemkot Tangsel mencari solusi mengenai persoalan TPA Cipeucang.

Abdul Manaf, salah satu perwakilan warga menyebutkan bahwa hingga saat ini volume sampah di TPA Cipeucang sudah setinggi 17 meter. Sedangkan batas ambang ketinggian volume sampah 20 meter. Sehingga jika terus didiamkan maka akan berdampak semakin buruk.

"Kami menyebutkan kota modern ini punya gunung sampah. Dan dampaknya bayi-bayi kami sudah terkena virus penyakit dari polusi yang sudah mencemari lingkungan kami, mulai dari udara dan air kami," ujarnya.

Dia juga menyinggung soal program-program dinas terkait yang sebelumnya sempat menggunakan teknologi baru, untuk menangani masalah TPA Cipeucang.

"Katanya dulu ada teknologi canggih, tapi mana buktinya. Kami masih menderita hidup disamping gunung sampah. Jadi kami minta ke Pak Dewan agar tidak diam saja. Dan segera sampaikan aspirasi kami ini ke Walikota," ujarnya.

Warga lain yang menyampaikan keluhannya ialah Pipit, warga RT02/04, kampung Kavling Serpong, Kelurahan Serpong inilah yang bayinya menderita penyakit kulit. Menurutnya dia sudah periksa ke dokter, dan dokter mengatakan bahwa bayinya yang kini berumur 8 bulan itu memang terkena cemaran polusi dari air yang kotor.

"Ini lihat, dari muka, badan, punggung, sampai telapak tangan anak saya semuanya ada seperti kudis gini. Kata dokter ini karena lingkungan yang kotor, terutama karena udara dan air di lingkungan kami. Sekarang anak saya sering nangis setiap kali sudah merasa gatal di kulitnya ini," ujarnya sambil menunjukan bagian tubuh anaknya.

Ada juga warga lain, Usnawati, yang mengaku bahwa warga saat ini bukan lagi mencium bau sampah. Tetapi lebih parah dari itu seperti bau limbah dengan bau yang sangat menyengat. Bahkan, Usnawati mengaku malu jika ada kerabat atau saudaranya yang datang ke rumahnya untuk bertamu. Sebab, minuman dan makanan yang ia suguhkan sama sekali tidak di sentuh lantaran aroma bau menyengat di rumahnya.

"Udah bau limbah yang kami rasakan, bukan lagi bau sampah. Kami benar-benar tidak tahan hidup seperti ini. Katanya mau bikin masyarakat sehat, tetapi melihat masyarakat hidup disamping gunung sampah dengan polusi yang berbahaya malah diam saja. Jadi kami minta solusi yang cepat," ujarnya.

Menanggapi berbagai keluahan tersebut, Mursidi Ilyas sendiri mengatakan bahwa selama ini Komisi IV tidak diam. Dia mengatakan bahwa Komisi IV sudah menjalin komunikasi dengan Kabupaten Tangerang untuk persoalan penyedian TPA di wilayah Kabupaten Tangerang.

Hingga akhirnya dari lobi Komisi IV dengan Bupati Kabupaten Tangerang, Ahmad Zaki Iskandar, menyetujui jika pihak kabupaten bakal bekerjasama dengan Pemkot Tangsel, dan akan menyediakan lahan di wilayah Kabupaten Tangerang untuk TPA.

"Kita tidak diam, selama hampir dua tahun ini kita benar-benar soroti serius persoalan sampah. Dan hasilnya Bupati Tangerang menyetujui akan menyediakan lahan untuk memindahkan TPA Cipeucang. Jadi warga tidak perlu lagi khawatir karena saat ini sudah ada pemecah solusi dari masalah ini," ujarnya.

Kendati demikian, Mursidi mengatakan masyarakat harus bersabar. Karena proses nota kesepahaman antara Pemkab Tangerang dengan Pemkot Tangsel butuh proses panjang.

"Kita bersabar saja, agar semua proses ini berlalu dengan cepat. Dan TPA Cipeucang ditutup," tuturnya.

Sedangkan untuk persoalan sambil menunggu TPA Cipeucang dipindahkan, Drajat Sumarsono mengatakan, Komisi IV kembali akan koordinasi dengan dinas terkait untuk menghilangkan bau TPA tersebut.

"Kami akan segera koordinasi dengan dinas terkait. Dan pada pembahasan anggaran murni nanti, kami juga akan dorong agar ada anggaran untuk program permasalahan bau dan polusi sampah di Cipeucang," tandasnya.

« November 2019 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30  
Go to top