Mister You Know Jadi Monyet

detaktangsel.com CELOTEH - Setiap ketemu Antok bawaannya kesel dan jengkel. Begitu menyaksikan perilaku Heru. Mereka berdua tipologi pandangan sok tahu. Tak heran kawan-kawan menjuluki mereka sebagai Mr You Know.

Antok, sosok aktivis kampus serta lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kalau tidak berdemo mengorek-korek kesalahan pemerintahan. Cari kesalahan anggota dewan. Di mata Antok, kalangan birokrasi dan dewan bobrok.

Demikian pula Heru. Jurnalis muda ini senang menyajikan isu sesat. Tidak memberikan pencerdasan kepada pembaca sama sekali. Gaya tulisannya mirip tidak bisa dipertanggungjwabkan. Maklum, Heru bekerja di 'yellow paper' sebutan untuk media massa yang suka mengeksploitir pemikiran dan emosi pembaca.

Aku, Totok, Ibrahim Jay, dan Rusmin bertemu dan ngobrol di kedai Pak Bejo di kawasan Sini Gintung, Cipatat. Di tengah membahas rencana menyelenggarkan Jambore Topeng Monyet, mataku menyaksikan Antok dan Heru duduk semeja bersama seorang etnis Tionghoa.

"Proyek apa yang dibahas Antok dan kawan-kawan tersebut," kata hatiku.

Sangat diharap Antok dan Heru tidak mengetahui keberadaanku beserta Ibrahim Jay dan kawan-kawan. Bisa berabe, karena kehadiran mereka bisa kacaukan suasana. Bahkan, agenda pembahasan Jambore Topeng Monyet tertunda.

Dugaanku benar. Antok dan Heru mengetahui keberadaanku. Usai pertemuan, mereka menghampiriku dan nimbrung ngobrol.

"Hei bos. Ada apa nih ngumpul-ngumpul!" seru Antok menyapaku.

"Ach, biasa-biasa aja. Lagi temuan, lepas kangen ama teman-teman."

Aku balik tanya sama mereka. Ada pertemuan apa, tampak serius.

"Bos, Cina itu namanya Tan Dji Dor alias Tan Cu Mono. Juragan pabrik tahu. Dia minta tolong urusin izin pendirian pabrik," kata Antok.

Lalu, Heru menambahkan duduk perkara Tan Cu Mono mendirikan usahanya tersebut.

"Ini berita bagus, Bos. Bisa dikembangi ke intansi terkait," sahut Heru.

"Aku ajak teman-teman kampus mendemo kelurahan dan pemkot nanti. Tan janji mau biayai aksi demo itu, Bos," tutur Antok menimpali Heru.

Aku tidak berkomentar. Juga Ibrahim Jay dan kawan-kawan, mantan aktivis mahasiswa angkatan 2001. Sebaliknya, aku termasuk Ibrahim Jay dan kawan-kawan tidak suka kehadiran Heru serta Antok. Mereka dinilai tidak punya tanggung jawab profesi sekaligus almamater.

"Mas Antok, Mas Heru asik donk dapat proyek. Ajak-ajak kenapa," kata Ibrahim Jay.

"Kali-kali saya bersama kawan-kawan ini kecipratan rejeki. Siapa tahu bisa buat bayar kontrakan rumah," sambung Ibrahim Jay sambil mengedipkan mata kepadaku.

Rusmin dan Totok tidak mau ketinggalan. Mereka juga menyampaikan komentar senada. Baik Rusmin maupun Totok ingin diajak pula berdemo atau dijadikan narasumber oleh Heru.

"Mas Heru, saya juga pengen jadi narasumber agar foto saya nonggol di koran. Atau, paling tidak, saya diberi kesempatan menyampaikan orasi saat demo nanti," ujar Rusmin.

"Boleh, boleh," kata Heru menanggapi komentar Rusmin.

Begitu pun Antok. Sangat merespon keinginan Rusmin maupun Totok.

"Saya bisa hubungi Anda di mana kalau jadi berdemo. Punya pengalaman unjuk rasa dan berorasi, tidak?" tanya Antok ke Rusmin.

Aku tahu bahwa Ibrahim Jay dan kawan-kawan hanya ngisengi Antok dan Heru. Makanya, aku ogah nimpalin pembicaraa antara kubu Ibrahim Jay dan Antok. Aku ambil posisi diam dan sebagai pendengar setia.

Aku bersyukur selang 30 menit, Antok dan Heru pamitan. Mereka hendak menemui teman-temannya untuk berkoordinasi rencana demo.

"Maaf nih, kami terpaksa mohon pamit. Sebetulnya enak ngobrol bareng. Namun, ada tugas penting, kami mohon pamit," tutur Antok.

"Mangga, semoga sukses. Jangan lupa cipratin kalau ada kelebihan dana," jawab Ibrahim Jay bernada memrovokasi.

Sepeninggal Antok dan Heru, Ibrahim Jay hanya menggelengkan kepala mengapresiasi sikap dan perilaku mereka. Ibrahim Jay mengusulkan agar kedua rekan itu dilibatkan dalam acara Jambore Topeng Monyet.

"Saya usul Antok dan Heru dilibatkan dalam Jambore Topeng Monyet sebagai tokoh sentral," kata Ibrahim Jay.

"Maksudnya?" tanya Rusmin.

"Kita jadikan mereka sebagai monyet dalam jambore nanti."

"Setuju!" seru Totok dan Rusmin sambil terbahak-bahak.

« August 2018 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    
Go to top