Sensasi atau Pencitraan

detaktangsel.com - SEKETIKA, Inilah wajah dan perilaku politisi Indonesia. Selain banyak bertingkah, juga suka cari sensasi terutama menjelang Pemilu.

MUNGKIN stigma itu layak disandang H Rhoma Irama (capres dari Partai Kebangkitan Bangsa) dan Wiranto (capres Partai Hanura). Juga calon presiden lainnya, seperti Prabowo Subiakto, Surya Paloh, apalagi Abu Rizal Bakrie alias Ical alias ARB. Maklum, seolah mereka kurang PD (percaya diri) mencalonkan diri. Karenanya, salah seorang dari capres tersebut mudah terjebak konflik yang berbau pepesan kosong.


Konon, fakta isu yang beredar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) geram dengan pernyataan Wiranto yang menyindir keinginan Rhoma Irama menjadi calon presiden (capres). Lalu, tanpa pikir panjang dan logis, PKB menantang Wiranto adu debat dengan si 'Raja' dangdut.


Muhaimin Iskandar kebakaran jenggot. Bak ayam jago, Cak Imim - panggilan akrab Muhaimin Iskandar - berkokok lantang. Ia menantang kubu Wiranto debat terbuka dengan dibantu dewan juri.


Apa mau dan maksud Cak Imin? Tentu hal biasa dalam politik, masak politisi sekaliber dia mudah tersinggung. Bagaimana perasaan loyalis Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) tidak tersinggung dan geram mengingat mereka tergusur dari PKB karena ulah Cak Imin.


Bila visi-misi Bang Haji diadu dengan visi-misi Wiranto secara terbuka, maka apa yang mau diraih. Suara dukungan? He, he. he.........!
Sungguh lucu, tapi maaf, lelucon Cak Imin itu tidak mampu mengocok perut sampai mules. Biasa, itu cuma dagelan politik.


Kalo cuma untuk mengukur popularitas, kiranya masing-masing kedua partai politik dan capresnya sudah populer. Siapa enggak kenal PKB-Rhoma Irama. Begitupun siapa enggak kenal Wiranto-Partai Hanura.


Publik biar tahu mana yang bagus visi dan misinya? Dan bagaimana popularitasnya diukur? Apalagi Cak Imin sampai ajukan usulan dilakukan voting supaya terjadi fairness?


Sesungguhnya Cak Imin beserta PKB dan capresnya, pinjam istilah almarhum Gus Dur, salah 'minum obat'. Sehingga Cak Imim 'meriang' mendengar celotehan Wiranto.


Siapa pun tahu, tidak akan meremehkan, apalagi sampai melecehkan Rhoma Irama menjadi capres. Karena, baik rakyat maupun sebagian besar politisi yang punya akal sehat sangat menghargai sekaligus menghormati Rhoma Irama yang gagah berani mencalonkan diri sebagai capres.


Meningginya tensi politik ini bermula ketika Wiranto mengikuti debat capres yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jumat (13/12).

Memang, pernyataan Wiranto saat itu membikin kuping dan hati panas.

Kebetulan capres dari PKB adalah Rhoma Irama, otomatis merasa tersinggung oleh sentilan Wiranto.


Tidak kurang dan tidak berlebihan. Pernyataan Wiranto saat itu; 'Sekarang ini penyanyi dangdut dijadiin calon. Ada lagi pelawak, nanti lama-lama pemain akrobat juga dicalonkan. Makanya korupsi jalan terus.


Namanya juga Wiranto kalau tidak pandai berkelit. Politisi berpangkat jenderal ini mengaku tidak bermaksud menyindir Rhoma, bahkan tidak pernah menyebut nama orang per orang.


Wiranto mengaku tidak punya watak menyinggung, merendahkan, dan melecehkan orang lain. Pengakuan Wiranto, mungkin, yang jujur itu tidak mampu meredam emosi Cak Imin.


Penulis menyayangkan kedua kubunya konflik sebelum peperangan sebenarnya dimulai. Satu sisi seharusnya kubu Cak Imin tidak mudah tersinggung dan tawadhu. Di sisi lain, kubu Wiranto tidak 'celometan' memaparkan pemikiran.


Ibarat pribahasa mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Nah, artinya banyak jalan mencari dan menyebarkan pesona dalam upaya pencitraan.

Masak politisi sekaliber Cak Imin dan Wiranto diajari penulis. Malu Aah!
Inikah namanya sekadar sensasi politik, dagelan politik, akrobatik politik atau tebar pesona. Ujung-ujungnya hanya sebagai 'proyek politik' pencitraan.

Para massa pendukung, kader, dan simpatisan massa pendukung atau yang keren kerap disapa konstituen masing-masing partai politik, lucunya ikut-ikutan menggeliat. Dan biasanya, massa 'bayaran' turut ambil bagian meramaikan sekaligus memanas-manasi suasana kebatinan.


Aduh biyung! Kenapa gaya politik yang cenderung akrobatik dan ugal-ugalan dipelihara dan dikembangbiakan. Apa enggak ada cara lain yang cool dan smart. Katanya, kita bangsa yang santun, beradab, dan berperikemanusiaan. Tapi kok mudah tersinggung.


Pesta demokrasi-nya belum digelar. Kenapa cari-cari keributan? Katanya, damai itu indah. Lho kok hanya ada di spanduk saja. Apa enggak malu nih, telan ludah sendiri.


Ya, ya, ya........! Inilah bukti bukan rekayasa. Politisi kita hanya pandai bersilat lidah bila mendekati pesta demokrasi. Cari simpati atau dukungan atau sebaliknya menciptakan kebencian.


Nanti bila dukungan yang diperoleh tidak signifikan, koar-koar di media massa terutama media eletronik. Si calon dan partai politik anulah curang, praktik politik uang alias money politics-lah.


Perlu dimaklumi kali ya, politisi dan partai politik yang bisanya lemparan tuduhan negatif. Seharusnya kekalahan yang dialami adalah secara konsekuensi logis akibat akumulasi perilaku dan akrobat yang dilakukan jauh-jauh hari semasa sosialisasi atau konsolidasi di tengah masyarakat.

Pada akhirnya bukan simpati dan dukungan yang didulang, malah protek dan antipati.


Jelas dunia politik tidak jauh dari proses pembusukan, agitasi, 'premanisme', pamer kekuatan, dan jor-joran sebar kebaikan hingga mental serta logika berpikir pemilih tersesat untuk menggunakan hak politik atau menyalurkan aspirasinya ketika memasuki bilik menyoblos.


Bahkan atau justru sebaliknya, pertarungan politik antarpolitisi, antarpartai politik, dan perilaku elit partai politik yang negatif mendorong kelompok tertentu, kekuatan kritis atau rakyat bosan ikut Pemilu dan kecewa terhadap elit politik misalnya, ogah-ogahan ambil bagian dalam proses demokrasi melalui Pemilu.


Sekarang zamannya semangat memberantas praktik kotor seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sangat tinggi. Langkah itu dimotori Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tidak kepala tanggung, sejumlah elit politik, baik sebagai anggota dewan, ketua partai politik, kepala daerah, juga menteri ditangkapi dan dijebloskan ke kerangkeng besi.


Apa kurang yakin bahwa keterlibatan kalangan elit politik, entah sebagai wakil rakyat maupun kepala daerah, adalah pemicu rakyat menjadi benci dan muak terhadap partai politik dan elitnya. Jangan disalahkan, apalagi dipersalahkan bila mereka tidak menyalurkan aspirasi politiknya pada Pemilu 2014. Mereka cuek meski tempat pemungutan suara (TPS) di depan matanya.


Apalagi ada anekdot berkembang di tengah-tengah rakyat: gak nyoblos gak dosa kok. Maka, semangan dan keinginan sebagian rakyat tidak memilih atau menjadi golput makin tinggi.


Kalau toh mereka ikut nimbrung di posko dan mendatang caleg misalnya, itu hanya untuk menampung penyebaran kebaikan caleg bersangkutan. Misalnya, bagi-bagi sembako, kaos, rokok, dan sebagainya.


Siapa penipu dan siapa kena tipu beda-beda tipislah, seperti kulit bawang merah.


Ya, ya, yalah......., masa ya, ya, ya donk! Itulah kondisi obyektif apa yang terjadi di masyarakat setiap menjelang Pemilu. Apakah pemilihan kepala daerah, Pemilu Legislatif atau Pemilu Presiden.


Terkadang, juga sangat rancu antara kemauan, slogan, dan pesan politik yang disampaikan elit politik. Nyaris tidak berbunyi secara politis bila dimaknai artikulasinya. Yang penting, berani setor muka dan cuap-cuap di depan calon pendukungnya. Terkadang calon pemilih pun tidak memahami, apalagi mengapresiasi pesan politik caleg bersangkutan.


Nah, otomatis calon pemilih atau pendukungnya setengah hati menjatuhkan pilihan. Namanya setengah hati, ya jelas, prediksi caleg meleset jauh, Karena rata-rata caleg hanya mampu dan fokus untuk penyebaran kebaikan ketimbang mengalkulasi kelemahan, kekuatan, kesempatan, dan kendala yang dihadapinya,


Semua dikalkulasi hantam rata. Pokoknya dan pastinya, suara yang akan diperoleh signifikan. Kursi dewan pasti diduduki.


Nah, ini cerita lain. Konon, seperti diberitakan media massa, baik suratkabar, televisi swasta, dan media on line. Ini perilaku yang enggak patut dicontoh, diguguh, dan ditiru.


Isu seputar perilaku elit politik dari Partai Demokrat Ruhut Sitompul. Acapkali politisi yang satu ini perilakunya kontoversial. Selain mengundang ketersinggungan juga membuat pihak lain marah.


Tidak tahu bahwa perilakunya akan merusak citra Partai Demokrat atau memang Ruhut sengaja dijadikan Partai Demokrat sebagai bersikap sedemikian rupa. Enggak ada yang tahu persis kecuali Ruhut pribadi dan Partai Demokrat.


Terlepas benar atau salah dan menguntungkan atau merugikan Partai Demokrat, pernyataan Ruhut selalu mendapat pembenaran dari kubu Demokrat secara organisatoris. Karena, nyaris tidak pernah terdengar Demokrat jatuhkan sanksi terhadap Ruhut.


Sekali lagi, inilah potret dan wajah politisi. Seakan tidak punya batas toleransi politik atau moral. Semua dinilainya hanya dengan uang.


"Aduh aku kok ngelantur. Maaf Cak Imin, Bang Haji, Pak Wir, dan Bang Ruhut. Aku enggak bermaksud jejek-jelekin dan diskreditkan sampeyan semua."


Ternyata aku bermimpi berpidato di depan kerumunan massa. Pidatoku berapi-api bak Presiden Soekarno. Sikat sana, sikat sini.


Aku tertidur ketika salah satu televisi swasta melaporkan polemik pemikiran antara Cak Imin dan Wiranto. Entah karena pengaruh tensi darah naik antara 120/90, aku jadi berhalulnasi menjadi tokoh nasional dalam mimpi.


"Sekali lagi, maafin ya Cak Imin, Bang Haji, Pak Wir, dan Bang Ruhut."
Sesungguhnya, aku tidak pernah berharap bermimpi menjadi tokoh nasional seperti Setiawan Djodi, Amien Rais,Megawati Soekarnoputri, Aburizal Bakrie dan sebagainya yang pantas menyandang predikat tersebut. Karena aku bukan politisi, bahkan konglomerat dan caleg. Aku cuma punya mimpi.


Diminta dan dijadikan Ketua Rukun Tetangga (RT) di komplek perumahan yang kudiami enggak mau. Tentu mau jadi politisi atau caleg bagiku ibarat api jauh dari panggang.


Sungguh sangat mengherankan aku sampai bermimpi sedemikian rupa. Sungguh aku takut Cak Imin, Bang Haji, Pak Wir, serta Bang Ruhut tersinggung dan marah gara-gara isi pidato dalam mimpi di siang bolong tersebut.


"Kalau mimpi kuceritakan, aku pasti ditertawai dan dicemooh temen-temen,"
"Dikiranya, aku berkhayal pingin jadi caleg seperti halnya Anton."


Tepat pukul empat sore, aku bergegas bangun dari tempat tidur. Kuambil kaleng bekas biskuit tempat empan ayam ketawa dan ayam bangkok. Dedek dan pur kucampur jadi satu. Kusiram air panas dan kuaduk.


Sebelum adzan Magrib terdengar dari Surau, kuselesaikan pekerjaan rutin ini, Lalu, kuambil handuk dan masuk ke kamar mandi, Seusai mandi, aku berangkat ke masjid menunaikan salat Magrib.

« December 2018 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            
Go to top